SMP News
https://www.dropbox.com/s/rspdrjlbbkjr036/05.%20PERANGKAT%20MENGAJAR%20SEM%202%2020142015.zip?dl=0
PERANGKAT MENGAJAR SEMESTER GENAP KURIKULUM 2013
SMP AN-NUR BULULAWANG


SMP ANNUR BULULAWANG: LANJUT ATAU KEMBALI
ANNUR, BULULAWANG – SMP Annur Bululawang sudah dipastikan akan kembali menggunakan kurikulum KTSP. Hal tersebut dihasilkan dari beberapa pertemuan yang dilakukan oleh pihak kurikulum  dengan beberapa pihak dalam musyawarah untuk menentekun masih akan menggunakan kurikulum 2013 atau kembali pada kurikulum KTSP. Dualisme kurikulum memang sudah menghiasi dunia pendidikan Indonesia yang menyita waktu dan pemikiran civitas pendidikan. Bersamaan dengan keputusan Menteri Pendidikan bahwa kurikulum K13 dihentikan diharapkan kembali pada kurikulum KTSP.
Saryanto, S.Pd. selaku Kaur. Kurikulum mengatakan bahwa SMP Annur Bululawang akan kembali menggunakan kurikulum 2006 yaitu KTSP. Namun, keputusan tersebut masih belum final karena masih menunggu pertemuan kepala sekolah yang akan direncanakan untuk menentukan  dan memutuskan hal tersebut. Sebelumnya Kaur. Kurikulum mengikuti rapat di SMK Negeri I Singosari untuk mengisi angket untuk menentukan  tetap menggunakan kurikulum 2013 atau kembali pada kurikulum 2006.
“Sebelumnya kami mengikuti rapat di SMK Negeri I Singosari pada tanggal 22 Desember 2014 untuk mengisi angket antara tetap menggunakan kurikulum 2013 atau kembali pada kurikulum 2006, tapi putusan itu belum final karena masih direncanakan akan mengumpulkan para kepala sekolah untuk memutuskan hal tersebut” ungkap Saryanto, S. Pd. selaku Kaur. Kurikulum di sela-sela rapat guru (30/12).
Berkenaan  dengan kurikulum 2013 hanya  sekolah yang ditunjuk untuk  terus menggunakan kurikulum 2013. Selain itu jika ada sekolah yang tidak ditunjuk oleh pemerintah untuk menjalankan kurikulum 2013 akan menanggung risiko dalam pengembangan bahkan pembiayaan yang berhubungan dengan buku pelajaran K13 yang menjadi tanggung jawab sekolah itu sendiri untuk membiayainya.
Perubahan kurikulum di SMP Annur Bululawang ini akan berpengaruh pada jadwal pelajaran dan jam mengajar. Hal tersebut disampaikan oleh wakil kepala sekolah di bidang kurikulum pada saat acara rapat guru (30/12). “Kembalinya SMP Annur pada kurikulum 2006 akan memengaruhi perubahan jadwal dan jumlah jam mengajar. Misalnya pelajaran bahasa Indonesia yang awalnya 6 jam pelajaran akan kembali menjadi 5 jam pelajaran” tutur Saryanto, S.Pd
Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa akan ada mata pelajaran yang berubah seperti pelajaran prakarya akan berubah menjadi pelajaran TIK. Perubahan itu dikarenakan bahwa ada beberapa mata pelajaran yang terdapat di kurikulum  2006 yang ditiadakan. Dengan kembalinya SMP Annur menggunakan kurikulum 2006 maka mata pelajaran yang ditiadakan di kurikulum 2013 akan diadakan kembali seperti pelajaran TIK. (SHOHIB)
SMP ANNUR BULULAWANG : MENYANDANG “A”
    Bululawang, An-Nur- Sekolah  Menengah Pertama An-Nur Bululawang telah  melaksanakan  agenda akreditasi  untuk menaikkan status kelembagaannya. Menurut informasi  yang dihimpun SMP An-Nur Bululawang telah menyandang status terakreditasi A meskipun belum ada informasi secara resmi mengenai status tersebut. Nur Kholis selaku kepala sekolah menerangkan bahwa informasi tersebut sudah final. Namun, hasil tersebut masih menunggu validasi  data untuk  menghindari dan mencegah kesalahan.
“Informasi tersebut sudah final, sudah ada informasi status  SMP An-Nur sudah turun, jerih  payah sudah terwujud dan ini sudah menjadi  harapan bertahun-tahun” terang Nur Kholis selaku kepala sekolah. Memang sudah barang tentu jika akreditasi  merupakan sebuah proses dan hasil. Sebagai proses, akreditasi merupakan suatu upaya  untuk menilai dan menentukan  mutu pendidikan lembaga sekolah berdasarkan standar mutu yang telah ditentukan. Sebagai hasil,  akreditasi merupakan status lembaga yang diumumkan pada masyarakat. Akreditasi semacam ini sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan standar yang sudah ditetapkan.
Hasil tersebut tidak terlepas dari usaha semua pihak dalam menyukseskan kegiatan akreditasi utnuk memperoleh hasil yang terbaik. “Keberhasilan ini merupakan  keberhasilan semua  pihak, dukungan dewan guru, pengarahan pengawas, serta kerjasama dan pantauan yayasan” kata Nur Kholis.
Akreditasi  sebagai  acuan penilaian mutu membutuhkan persiapan  yang panjang serta  dokumen yang lengkap. Oleh karena itu, kerjasama semua pihak untuk  menghasilkan kriteria penilaian untuk terakreditasi A  harus benar-benar dimatangkan. Misalnya, melengkapi semua data yang dibutuhkan oleh tim penilai harus disiapkan dengan sebaik-baiknya.
Dengan hasil ini SMP An-Nur  mempunyai  komitmen untuk terus berbenah diri utuk menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dengan berbasis pada pendidikan pondok pesantren  membentuk generasi penerus yang berkarakter sholihin dan sholihat. Sehingga SMP An-Nur menjadi sekolah  yang berbasis pondok pesantren akan menjadi sebuah harapan dan kepercayaan masyarakat untuk mendidik putra-putrinya menjadi siswa yang  berkarakter sholihin sholihat dan berakhlakul karimah dengan berpedoman pada Ahlussunnah Wal- Jamaah.(SHO HIB)


Konsep Penilaian Kinerja Guru

Meminjam pemikiran Boyd, Ronald T. C. (1989) dalam tulisannya tentang Improving Teacher Evaluations, di bawah ini akan diuraikan tentang penilaian kinerja guru.Penilaian kinerja guru seringkali didesain untuk melayani dua tujuan, yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional.

Sistem penilaian kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs), dan peluang untuk mengembangkan teknik-teknik baru dalam pengajaran, serta mendapatkan saran (konseling) dari kepala sekolah atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas.

Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang evaluator pertama kali harus dapat menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar. Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan :

    Keterampilan-keterampilan dalam mengajar

    Bersifat seobyektif mungkin

    Komunikasi secara jelas dengan guru sebelum evalusi dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi, dan

    Dikaitkan dengan pengembangan profesional guru

Para evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru. Jika para evaluator menggunakan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru, maka mereka dapat memberikan penilaian secara lebih akurat.

Beberapa prosedur yang dapat digunakan oleh evaluator, diantaranya :

    Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. Kendati demikian, untuk memperoleh tujuan ini, evaluator dalam menentukan hasil penilaian tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable)

    Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan – catatan dalam kelas. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan-tujuan pengajaran. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas, seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran , proses pengajaran dan testing (evaluasi).

    Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator, seperti: siswa, rekan sejawat, dan tenaga administrasi. Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi, pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah atau pengawas.

Guru-guru yang berkeinginan untuk meningkatkan pengajarannya biasanya sangat berhasrat untuk memahami bagaimana pandangan guru lain dan siswa terhadap dirinya. Memang, dalam proses evaluasi pandangan-pandangan mereka yang terlibat dalam keseharian kiranya tidak bisa diabaikan begitu saja.

 Pelaporan Hasil Evaluasi

Konferensi pasca-observasi dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Dalam hal ini, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator :

    Penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak.

    Penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru

    Menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi (maintain a level of formality necessary to achieve the goals of the evaluation)

    Menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik

    Memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan

 Kaitan Evaluasi Kinerja Guru dengan Pengembangan Profesi

Upaya untuk mengaitkan evaluasi kinerja guru dengan pengembangan profesi memang bukanlah pekerjaan yang gampang, baik untuk kepala sekolah, evaluator dan terutama guru itu sendiri. Walaupun demikian, ada beberapa jawaban yang sederhana bahwa evaluasi kinerja guru dapat digunakan dalam:

    Bekerja sama dengan guru-guru untuk menata secara khusus tujuan yang dapat dicapai.

    Menyajikan kritik membangun dan dukungan memperbaiki kelemahan dan mengembangkan kekuatan.

    Menginventarisasi guru-guru yang berpengalaman untuk diminta bantuannya dalam meningkatkan kinerja guru-guru yang kurang berpengalaman.

 Penilaian Kinerja Guru

Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 tahun 2009 mengisyaratkan bahwa untuk kenaikan pangkat dan golongan guru perlu dilakukan Penilaian Kinerja Guru.

Penilaian Kinerja Guru (PKG) adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya.

Dalam Penilaian Kinerja Guru (PKG), Guru wajib mencatat dan menginventarisasikan seluruh kegiatan yang dilakukan.

Penilaian Kinerja Guru (PKG) terhadap Guru dilakukan minimal satu kali dalam setahun.

Penilaian Kinerja Guru (PKG) untuk kenaikan pangkat Guru yang akan dipertimbangkan untuk naik pangkat dilakukan minimal 2 kali dalam  satu tahun,  yaitu 3 bulan sebelum periode kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil.

Penilaian Kinerja Guru (PKG) menggunakan instrumen yang didasarkan kepada:  14 kompetensi bagi guru kelas dan/atau mata pelajaran; 17 kompetensi bagi guru BK/konselor, dan pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah (Kepsek, Wakasek, dsb.)

Guru Kelas/Mata Pelajaran
   

Guru BK/Konselor

Pedagogi
(7 kompetensi)
   

Pedagogi
(3 kompetensi)

Kepribadian
(3 kompetensi)
   

Kepribadian
(4 kompetensi)

Sosial
(2 kompetensi)
   

Sosial
(3 kompetensi)

Profesional
(2 kompetensi)
   

Profesional
(7 kompetensi)

Selain itu, dalam Permenpan ini mengisyaratkan pula pentingnya kegiatanPengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dilaksanakan dalam upaya mewujudkan guru yang profesional, bermatabat dan sejahtera; sehingga guru dapat berpartisifasi aktif untuk membentuk insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian.

Pengembangan Keprofesian Guru mencakup tiga kegiatan: (1) Pengembangan Diri; (2) Publikasi Ilmiah, dan (3) Karya Inovatif.

Tujuan umum Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)  yaitu untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Sedangkan tujuan khusus Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)adalah:

    Memfasiltasi guru untuk mencapai standar kompetensi profesi yang telah ditetapkan.
    Memfasilitasi guru untuk terus memutakhirkan kompetensi yang mereka miliki sekarang dengan apa yang menjadi tuntutan ke depan berkaitan dengan profesinya.
    Memotivasi guru-guru untuk tetap memiliki komitmen melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional.
    Mengangkat citra, harkat, martabat profesi guru, rasa hormat dan kebanggaan kepada penyandang profesi guru.

Tahap Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru

1.  Pelaksanaan Evaluasi Diri

Evaluasi Diri dilaksanakan dalam periode 4 - 6 minggu pertama di awal rentang waktu 2 semester, hasil evaluasi diri digunakan guru untuk menyusun program pengembangan keprofesian berkelanjutan yang dilaksanakan sampai dengan menjelang pelaksanaan penilaian kinerja guru yang dilaksanakan dalam kurun waktu 4 – 6 diakhir rentang wktu 2 semester. Setelah guru mengikuti penilaian kinerja , maka hasil penilaian kinerja tersebut bersama-sama dengan hasil evaluasi diri berikutnya dipergunakan untuk menyusun program pengembangan keprofesian berkelanjutan untuk periode selanjutnya.

Pada saat pelaksanaan evaluasi diri, guru kelas/mata pelajaran harus juga menyusun dokumen pendukung pembelajaran, antara lain: Program Tahunan, Program Semester, Silabus, RPP, Bahan Ajar, Lembar Kerja Siswa, Instrumen Penilaian, Nilai Hasil Belajar, Analisis Penilaian Hasil Belajar, Program Tindak Lanjut (Remidial dan Pengayaan) dan Daftar Nama Peserta Didik.

Dokumen-dokumen tersebut semuanya akan dikumpulkan pada saat pelaksanaan penilaian kinerja guru dalam periode 4 - 6 minggu terakhir di kurun waktu 2 semester setelah kegiatan evaluasi diri dan pengembangan keprofesian berkelanjutan dilaksanakan.

2.  Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru dalam periode 4 - 6 minggu di akhir kurun waktu 2 semester

Penilaian kinerja guru dalam periode 4- 6 minggu di akhir kurun waktu 2 semester terhadap guru kelas/mata pelajarandilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian kinerja guru mata kelas/mata pelajaran yang dilengkapi dengan rubrik penilaiannya dalam pengamatan dan/atau pemantauan dengan tahapan sebagai berikut :

a.  Sebelum Pengamatan dan/atau Pemantauan

1)  Lakukan pertemuan awal antara penilai kinerja guru dengan guru yang akan dinilai. Guru kelas/mata pelajaran harus menyerahkan perangkat pembelajaran antara lain; Program Tahunan, Program Semester, Silabus, RPP, Bahan Ajar, Lembar Kerja Siswa, Instrumen Penilaian,Nilai Hasil Belajar, Analisis Penilaian Hasil Belajar, Program Tindak Lanjut (Remedial dan Pengayaan) dan Daftar Nama Peserta Didik. 

2)  Penilai melakukan penilaian terhadap semua dokumen perangkat pembelajaran. Diskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas pokok guru dengan mengacu pada instrumen penilaian kinerja.

3)  Catat semua hasil diskusi dalam instrumen penilaian kinerja untuk masing-masing indikator kinerja setiap tugas utama guru sebagai bukti penilaian kinerja.

4)  Sepakati jadwal pelaksanaan penilaian kinerja guru, khususnya untuk kegiatan pengamatan dalam penilaian kinerja.

b.  Selama Pengamatan

1)  Pastikan guru yang akan dinilai membawa perangkat pembelajaran (RPP, Daftar Nama Peserta Didik, Daftar Nilai, Buku Pegangan Guru, Media Pembelajaran, dan Instrumen Evaluasi, dsb)

2)  Lakukan pengamatan proses pembelajaran di dalam dan/atau di luar kelas dan catat semua kegiatan yang dilakukan oleh guru.

3)  Gunakan instrumen penilaian kinerja guru pembelajaran untuk menetapkan ketercapaian/keterlaksanaan semua indikator secara valid, reliabel, dan konsisten tentang hasil penilaian kinerja guru mata pelajaran/kelas, pengamatan dimungkinkan dapat dilakukan lebih dari satu kali.

c.   Setelah Pengamatan

Setelah pengamatan dan atau pemantauan pembelajaran/pembimbingan, penilai dapat melakukan, antara lain :

1)  Lakukan pertemuan antara penilai dan guru yang dinilai untuk mengklarifikasi beberapa aspek yang masih diragukan dan menyepakati program tindak lanjut dari hasil pengamatan/pemantauan

2)  Catat semua hasil pertemuan pada instrumen penilaian kinerja guru.

3)  Jika penilai merasa belum cukup bukti untuk menentukan skor/nilai kinerja, maka penilai dapat melakukan pengamatan ulang. Sampaikan kekurangannya kepada guru yang dinilai dan sepakati jadwal pelaksanaan pengamatan ulang.

3.  Tahap Pemberian Nilai

Pada tahap ini penilai menetapkan nilai untuk setiap indikator kinerja setiap dimensi tugas utama guru dengan skala nilai 1, 2, 3, atau 4. Sebelum pemberian nilai tersebut, penilai terlebih dahulu mengidentifikasi melalui pemantauan dan/atau pengamatan apakah setiap indikator kinerja untuk masing-masing dimensi tugas utama guru dapat teramati dan/atau terpantau.

4.  Tahap Persetujuan

Setelah melaksanakan penilaian, penilai wajib memberitahukan kepada guru yang dinilai tentang hasil penilaian kinerja guru yang diperoleh berdasarkan bukti catatan untuk setiap indikator. Jika guru yang dinilai dan penilai telah sepakat dengan hasil penilaian kinerja, maka keduanya menandatangani berkas laporan penilaian kinerja.

Keputusan penilai terbuka untuk diverifikasi. Guru yang dinilai dapat mengajukan keberatan terhadap hasil penilaian tersebut. Keberatan disampaikan kepada Kepala Sekolah dan/atau Dinas Pendidikan, yang selanjutnya akan menunjuk seseorang assesor (misalnya pengawas atau sesorang yang ditugaskan); untuk bertindak sebagai moderator Dalam hal ini moderator dapat mengulang pelaksanaan penilaian kinerja guru untuk dimensi tugas utama tertentu yang tidak disepakati atau mengulang penilaian kinerja secara menyeluruh. Pengajuan usul penilaian ulang harus dicatat dalam laporan akhir. Dalam kasus ini, nilai penilaian kinerja guru dari moderator digunakan sebagai hasil akhir penilaian kinerja guru. Penilaian ulang hanya dapat dilakukan satu kali dan moderator hanya bekerja untuk tahun tersebut.

Khusus bagi guru yang mengajar di 2 (dua) sekolah atau lebih (guru multi sekolah/madrasah), maka penilaian dilakukan di sekolah/madrasah induk (satuan administrasi pangkal). Meskipun demikian, penilai dapat melakukan pengamatan serta mengumpulkan data dan informasi dari sekolah/madrasah lain tempat guru mengajar atau membimbing.

Penilai dan guru yang dinilai melakukan refleksi terhadap hasil penilaian kinerja guru, sebagai upaya untuk perbaikan kualitas kinerja pada periode berikutnya.

5.  Tahap Pelaporan

Setelah nilai penilaian kinerja guru diperoleh, Kepala sekolah/madrasah wajib melaporkan hasil penilaian kinerja guru kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Tim Penilai Angka Kredit kabupaten/kota, provinsi, atau pusat sebagai dasar penetapan angka kredit (PAK) tahunan yang selanjutnya dipertimbangkan untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru. Laporan berbentuk hasil penilaian masing-masing indikator kinerja dalam paket instrumen penilaian kinerja guru yang telah dilengkapi dengan hasil kajian berbagai dokumen perencanaan dan dokumen pendukung lain yang relevan dan catatan hasil pengamatan.
KESISWAAN : Bekal yang Pasti
KESISWAAN- Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dan diklat yang dilaksanakan oleh pihak kesiswaan bertujuan untuk membekali peserta didik untuk mempunyai kemampuan dalam bidang keorganisasian. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 12-30 November 2014. Kegiatan ini diikuti oleh semua organisasi yang berada dalam naungan kesiswaan baik OSIS, MPK, maupun badan semi otonom (BSO) yang ada di lembaga Sekolah Menengah  Pertama An-Nur Bululawang. Adapun pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai berikut:
No    Nama  Organisasi    Tanggal pelaksanaan
1    OSIS dan MPK    12 November 2014
2    Diklat PASKIBRA    15 November 2014
3    Diklat Jurnalistik    18 November 2014
4    Diklatsar PMR IV dan Pramuka    20 November 2014
5    Diklat AL-Banjari    24 November 2014
6    Diklat Paduan Suara    25 November 2014

    Kegiatan ini memberi dampak yang positif bagi peserta didik yang mengikuti organisasi. Mereka (pengurus organisasi.red) dapat menimba ilmu keorganisasian  yang dapat dijadikan bekal dalam mengarungi organisasi dalam periode satu tahun ke depan dalam masa jabatannya.
    Ditemui di  kantornya Shoim As’ari selaku kurikulum mengatakan  bahwa kegiatan LDK dan diklat merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan dalam  setiap periode kepengurusan organisasi yang baru yang ditujukan untuk membekali para pengurus agar siap dalam menjalankan  semua tugas yang menjadi tanggung jawabnya. (Shohib)


KESISWAAN- Pelaksanaan UJian Akhir Semester (UAS) dilaksanakan pada tanggal 1-8 Desember 2014, tetapi perencanaan  lomba antarkelas sudah dibahas oleh kesiswaan untuk mematangkan program setelah ujian tersebut.  “Having Fun”, itulah kata yang muncul untuk menggambarkan kegiatan class meeting (pertemuan antarkelas) yang akan diselenggerakkan oleh pihak kesiswaan yang bekerja sama dengan OSIS. Meskipun ujian akhir semester belum dilaksanakan pihak kesiswaan ingin menyongsong momentum dengan merencanakan kegiatan class meeting (pertemuan antarkelas) yang menyenangkan bagi siswa setelah melaksanakan kegiatan ujian akhir semester. Sudah barang  tentu kegiatan ini akan  menjadi pelipur kepenatan siswa dalam menjalani kegiatan belajar mengajar selama satu semester.

No Kegiatan                                                            Waktu pelaksanaan

1   Opening ceremony & Lomba /blok            9-10 Desember 2014

2   PERMAINAN TRADISIONAL                        11-14 Desember 2014

3   Lomba Atletik                                                    15-17 Desember 2014

Kegiatan ini diharapkan mampu mendongkrak lagi semangat para siswa untuk belajar dengan sportif dan jujur. Sehingga selain bermain para  siswa mampu  mengambil pelajaran berarti dalam setiap permainan yang ada dalam kegiatan class meeting tersebut.

Followers

“ Mempersiapkan dan mengantarkan anak didik menjadi Sholihin Sholihat berbudi pekerti luhur,cakap,terampil dan berwawasan keilmuan yang tinggi ”